Hari ini hujan lebat mengguyur kota Jakarta, mengakibatkan banjir dimana-mana disebabkan luapan air dari sungai ciliwung yang tak terbendung, ditemani gemericik hujan kedua kaki terus kuayunkan satu demi satu melangkah, sembari menatap jalan yang kotor dan berlubang, sepatuku penuh dengan air yang masuk dan gatal mulai hadir menyapa kulitku, disajikan dengan pemandangan ruas jalan yang macet, ucapku alhamdulillah “segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan alam dan isinya, maha dahsyat ciptaan Allah SWT” Subhanallah.
Sambil berjalan menyusuri lorong jalan yang macet dan banjir seolah tidak ada lagi jalan bagi para pejalan kaki, sejenak terlintas tanda tanya dan unek2 dalam hati, ehmm.. Persoalan banjir di Jakarta ini tidak akan habis dan tidak akan berhenti, sama halnya dengan permasalahan TKI di luar sana, akan terus mengalir sepanjang masa berjalan, seolah sudah tiada lagi yang peduli dan memperhatikan jalanTKI menuju perlindungan dan kemandirian yang sejati,”
Mari kita kaji kenapa persoalan banjir di Jakarta sama dengan persoalan TKI diluar sana, banjir di Jakarta sebenarnya banjir kiriman dari Bogor, dan Jakarta hanya penerima tumpahannya saja, ibarat kata bogor adalah hulu nya dan Jakarta adalah hilirnya, nah kalau kita kaji sejauh ini pembangunan dan perbaikan infrastruktur sungai dan lainya dalam ranka penanggulanagn banjir di Jakarta banyak dilakukan di hilirnya saja, alias percuma dan menghabiskan anggaran negara saja, reviuw kebelakang sebenarnya Jakarta dari tahun dulu sudah didesain anti banjir, namun seiring waktu berjalan desain anti banjir tidak bisa terkategorikan lagi.
Kalu kita bicara banjir tentu melibatkan banyak kalangan dan semua pihak , mengenai sebab2 terjadinya banjir, misal masyarakatnya membuang sampah sembarang sehingga mengakibatkan arus sungai banyak tersumbat, para pengusaha hotel, restoran dan gedung2 tinggi di sepanjang kuningan sudirman banyak yang menutup saluran irigasi kecil pinggir trotoar jalan, dan mungkin pemerintahnya juga yang kurang tegas dalam menertibkan kota metropolitan tsb,
Sama halnya kalau kita bicara TKI di luar negeri sana, satu persoalan TKI datang dari dalam negeri kita sendiri yaitu pada masa pra penempatan atau hulu nya. Seperti : pemalsuan identitas (ktp,kk,ijazah,umur, dll), pendidikan kurang memadai, penguasaan bahasa tujuan kurang, penyekapan dipenampungan, eksploitasi dsb, dan tentunya persoalan hulu tersebut akan berimbas kepada hilirnya seperti : si “A” diberangkatkan ke HK dan baru bekerja selama 3 bulan kemudian si A di PHK karena penguasaan bahasa yang kurang mampu, si “B” bekerja ditimur tengah baru bekerja 5 bulan mendapatkan pelecehan seksual disebabkan karena budaya senyum si “B” terapkan ditimur tengah , si “B” selalu tersenyum kepada majikan dan si majikan berfikir si “B” suka sama majikan, ehmm beda budaya harusnya menjadi saling asah dan asih namun yg terjadi kepada TKI kita disana jauh berbeda.
Terus apa kaitanya dengan permasalahan TKI diatas yg disamakan dengan persoalan banjir di Jakarta, baik mari kita kaji bareng2 ya,, Timur tengah ibarat hulunya, sejauh ini selama proses penempatan TKI berjalan pernah ada atau belum pelatihan bagi calon majikan di seluruh negara penempatan untuk belajar dan memahami budaya kita sebagai Hulu nya” Ehmm Jawabanya ndak masuk akal kan pasti.. Mana mungkin para majikan mau mengikuti pelatihan memahami budaya Indonesia dan pelatihan memahamami tentang hak-hak dasar hak asasi manusia. Ehmm.. seterusnya mikir lagi2..mikir lagi.. mumet karena negara belum berupaya secara maksimal. (@caknurs)

No comments:
Post a Comment