Sunday, March 3, 2013

Kerja Nyata Crisis Center Migrant Institute

Kamis sore itu, usai rapat dadakan oleh sebab banjir, saya dan Biyah (rekan kerja) segera pulang, mandi dan menunaikan kewajiban sholat maghrib. Kami membuat kesepakatan pergi ke bandara Soekarno Hatta dengan dua rakan kantor lainnya (Mas Nursalim dan Pak Ali), untuk menjemput salah seorang TKW Malaysia yang menjadi korban Trafficing sebuah PJTKI. Usai maghrib, dua rekan yang kami tunggu datang, bertepatan dengan kami yang keluar pagar. Dengan mengendarai mobil kantor, kami meluncur ke Bandara. Rombongan penjemput yang terdiri dari empat orang (saya, Biyah, Ali, dan Nursalim) ini sampai di terminal 2 pukul 20:00-an. Namun, saat kami baru saja turun dari mobil, seseorang memberitahukan kami, bahwa kedatangan Lion Air bukanlah di terminal itu. Kamipun kembali meluncur ke terminal lainnya.

Pukul 20:30-an, kami sampai di terminal 3. Hujan yang semula rintik-rintik berubah menjadi besar, mengguyur bandara. Kami duduk menunggu kedatangan pesawat Lion Air dari Medan. Ya, Korban trafficking kali ini sudah sampai di Medan, dan salah satu staff Migran Institute sedang menjemputnya di sana.Dari beberapa info yang saya dengar, korban berasal dari daerah Bima. Semula ia bertujuan untuk mengais rizki ke Malaysia sebagai salah satu tenaga di sebuah restoran.. Namun, kenyataan yang ia dapati berbeda dari yang dijanjikan.

Eka (sebut saja namanya demikian), ternyata mendapati dirinya dimasukkan ke sebuah rumah bordir. Menyadari bahwa dirinya ditipu, gadis 21 tahun itu, bersama salah seorang temannya akhirnya berupaya untuk melarikan diri, hingga sampai di Medan. Sayang, sesampainya di Medan, nasib baik belum juga memihak kepada Eka. Dia harus bertemu dengan orang yang kembali membawanya ke sebuah yayasan, yang konon katanya yayasan pendidikan. Tetapi kenyataanya yayasan tersebut masih memiliki hubungan dengan orang yang membawa Eka ke Malaysia. Tentu saja ini merupakan kesulitan baru bagi Eka.

Beruntung, tidak lama setelah itu, pihak Migrant Institute (MI-sebuah lembaga binaan DD yang konsen pada penanganan kasus BMI), mengetahui keberadaan Eka. Crisis Center Migrant Institute (CCMI) pun segera melakukan tindakan penyelamatan. CCMI mengirimkan salah seorang staffnya untuk menjemput Eka.
Ayu, Staff CCMI yang berangkat sejak 8 Januari itu, berhasil membawa korban ke Jakarta pada tanggal 17 Januari 2013 malam. Selama satu jam lebih kami menunggu di terminal 3. Mata serasa ngantuk, namun Arrival dari Medan yang kami tunggu belum juga kelihatan. Hingga jam mendekati angka 22:00, seorang petugas bandara memberitahu kami, bahwa pesawat Lion Air bukan turun di terminal 3. Melainkan terminal 1. Beruntung hujan sedang reda, kami pun meluncur ke terminal 1.

Pukul 12:00 kami masih di jalan. Hujan yang deras-reda terus mengguyur bumi Jakarta. Banjir sudah menggenangi sebagian jalanan yang kami tempuh. Beberapa motor memasuki jalan tol, karena jalanan selain tol sudah terendam banjir. 

Berenam kami masih di jalanan hingga pukul 01:00. Kami ikhlas melakukan semua ini, semata-mata demi membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan. Ada kebahagiaan meskipun lelah menyelimuti.
Kini Eka berada di bawah pengawasan MI dan sedang ditangani kasusnya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi para BMI (Buruh Migrant Indonesia) yang ingin mengadu nasib ke luar negeri, agar lebih berhati-hati menyikapi tawaran yang selalu tampak manis di depannya.

Pukul 01:30 saya dan Biyah sudah berada di kostan. Tanpa lampu karena memang mati sejak sore. Dua buah lilin menyala menerangi ruangan 5x4 M tempat kami mengontrak. Saya menumpang tidur di kamar Biyah yang sudah mengontrak berdua dengan temannya. Bertiga kami berbaring di dua ranjang kecil yang disatukan.

Pukul 02:30 saya lihat kedua teman sudah pulas dalam buainnya. Suara tik-tik air hujan masih terdengar dengan jelas, karena saya memang belum bisa tidur. Hingga sekitar pukul 04:00 lampu menyala.

Penulis : Ida Raihan

No comments:

Post a Comment